Cerita Pendek

“MELLIFLUOUS”

-PROLOG

*Panca’s POV

Hai, atau halo, ehm..sebenarnya aku sedikit bingung harus menyapa dengan cara yang seperti apa. Asal kau tahu saja aku ini tidak pintar berkomunikasi, sebenarnya bukan hanya komunikasi saja sih..aku tidak pintar dalam segala hal, kecuali makan dan tidur mungkin. Karena itu, dari pada harus pusing memutar otak untuk menyapa dengan kalimat panjang x lebar x tinggi sampai akhirnya mengetahui volume balok, kurasa cukup kusapa seperti yang di atas saja.

 Oke..Yang pertama kau harus mengenal diriku dulu, tidak perlu semua tentang diriku yang harus kau kenal karena aku juga tidak butuh itu. Hmm..Bagaimana memulainya ya?. Ah seperti ini saja. Halo semuanya, nama lengkapku Panca Aksara kau bisa memanggilku Panca atau kalau kau seorang yang baik hati, kau bisa memanggilku ‘Tuan Tampan’, itu sungguh menyanjungku karena jujur saja tidak ada yang memanggilku begitu kecuali orang tuaku, sungguh aku ingin menangis dengan fakta ini (oke..kau bisa melemparku ke danau Toba kalau kau mau). Aku siswa SMA kelas XI-IPA 2 dengan wujud biasa, otak biasa, dan kehidupan biasa, sebelum malam itu mengubah segala tentang hidupku yang itu-itu saja, sebelumnya perlu kuberitahu juga kalau cerita ini bukan cerita mengenai romansa anak muda yang menye-menye itu, bukan pula cerita drama penuh air mata yang sering ibuku tonton bersama kakakku, apalagi cerita tentang psikopat gila yang…sumpah deh, saat membacanya isi perutku selalu bergejolak ingin keluar. Ini hanya kisah tentang aku dan ketiga temanku ketika melalui satu malam yang panjang dan agak mendebarkan kurasa.

Dan juga, harus kuperingatkan padamu satu hal, ada satu malam ketika bulan purnama yang berbeda dari malam lainnya, jika suatu saat malam itu tiba dan kau mendengar sebuah suara yang manis dan lembut juga menyenangkan untuk didengar, kusarankan tutup saja telingamu dan kalau bisa bersembunyi di tempat yang seaman mungkin, jangan terbawa dengan melodi nan merdu yang mengalun itu, atau kau akan bernasib sama sepertiku dan teman-temanku, dan aku yakin walau dengan IQ-ku yang tidak seberapa ini, kau tidak akan menyukai hal selanjutnya yang akan terjadi…Percayalah…

-BAGIAN 1

*Panca’s POV

Pagi itu masih sama dengan pagi-pagi yang kulalui seperti biasa, hari selasa yang dipenuhi dengan mata pelajaran yang sangat tidak aku sukai, tapi aku memang tidak suka semua mata pelajaran, kecuali sejarah, aku sedikit suka dengan mata pelajaran itu entah apa sebabnya.

 Seperti biasa setelah selesai dengan ritual mandiku serta sudah berseragam sekolah  dengan rapi aku segera turun dari kamarku yang berada dilantai dua untuk sarapan bersama dengan ibu dan kakak perempuanku, ayahku? Ia adalah seorang pegawai kontraktor yang saat ini sedang keluar kota untuk mencari uang, kau tentu tahu bahwa kami butuh uang untuk tetap hidup. Oke kita lanjutkan, aku memulai sarapan dengan mereka, suasana pagi ini juga tidak jauh berbeda dengan biasanya, ibuku yang bertanya tentang bagaimana sekolah kami, kemudian aku dan juga kakakku yang menimpali sekenanya.

Setelah selesai sarapan aku beserta kakakku segera berpamitan pada ibu, untuk kemudian berangkat sekolah bersama. Aku dan kakak perempuanku hanya berjarak satu tahun, jadi kami bersekolah disekolah yang sama, hanya saja aku di tahun kedua sedangkan ia kini di tahun terakhir bersekolah di SMA. Kami berangkat sekolah dengan berjalan kaki karena jarak sekolah hanya sekitar 300 meter dari rumah kami. Tidak ada percakapan diantara kami saat berjalan menuju sekolah, hingga akhirnya kami sampai di gerbang, mulai dari sini kami berbeda arah tujuan, kelasku lurus dari gerbang sedangkan kakakku belok kearah kiri. Kakakku menoleh padaku dan berpesan agar aku hati-hati, dan saat pulang sekolah nanti tidak perlu menunggunya karena dia harus menyelesaikan tugas dahulu. Aku hanya mengangguk tanda mengerti kemudian ia pergi menuju kelasnya, dan aku pun begitu.

Kakiku terus melangkah menuju kelasku yang berada di bagian paling ujung koridor yang sedang kulalui ini. Saat memasuki ruang kelas, aku melihat ketiga teman akrabku sudah menempati tempat duduknya masing-masing.

 Biar kuperkenalkan pada mereka dulu, yang di bangku paling depan tepat menghadap papan, duduk di kursi sebelah kiri adalah Mayang, si murah senyum yang lembut dan hangat. Wajahnya terus memancarkan aura menenangkan membuatnya mempunyai banyak teman di sekolah ini. Duduk di sebelahnya adalah seseorang yang sikapnya berbanding 180 derajat dari Mayang, namanya Elettra si nomor satu dalam hal kecerdasan yang memiliki sifat dingin, misterius, namun mempesona. Senyuman Elettra itu hal yang langka, mungkin selangka burung cendrawasih di Papua sana. Julukannya adalah si lempeng, kau tahu kenapa? Karena dia…lempeng. Sedangkan duduk di belakang Elettra adalah si ketua osis sekolah ini, Angkasa. Konon katanya ia adalah siswa tertampan di sekolah ini, oleh sebab itulah dia mendapat predikat ‘Most Wanted’. Mereka adalah teman-teman terbaikku selama ini, kami sangat dekat satu sama lain, meskipun Elettra masih cenderung tertutup kepada kami, tapi sampai saat ini, kamilah orang di sekolah ini yang paling mengerti seperti apa dirinya.

Aku berjalan kearah dimana tempat dudukku berada, yaitu di sebelah Angkasa, dengan mengumbar senyum paling manis yang kupunya , kusapa mereka “Selamat pagi teman-teman” sapaku riang.

 Mayang dan Angkasa balas menatapku dan serempak mengucapkan “Selamat pagi, Panca”, sementara Elettra hanya memandangku sekilas kemudian beralih lagi pada buku yang sedang ia baca tanpa mengucapkan sepatah katapun padaku. ‘Sudah biasa’,batinku.

Aku menduduki kursiku, yang langsung disambut dengan pertanyaan dari Angkasa “Bagaimana kerja kelompok kita? Jadi nanti malam kan?” katanya.

 Aku berdecih dan membalas “Aku baru saja sampai dan kau sudah bertanya tentang itu? Rajin sekali dirimu”.

 Sementara ia menatapku dengan padangan yang seolah berkata ‘Oh ayolah, Panca, kau bercanda?’. Angkasa menghela “Tugas ini sudah satu minggu lalu diberikan, kau mau dimarahi habis-habisan oleh Pak Hamdan karena telat mengumpulkan tugas?”.

 Aku menggeleng ngeri mengingat Pak Hamdan adalah satu dari jejeran guru killer di sekolahku “Tentu saja tidak mau” jawabku yakin.

 “Nah..itu kau tahu” katanya menimpaliku lagi, “Jadi bagaimana?” lanjutnya. Aku mengangkat bahu “Aku sih tidak masalah, kerja kelompoknya kan dirumahku.Mereka berdua tuh, bagaimana?” kataku menunjuk pada Mayang dan Elettra.

 Mayang yang sedari tadi sudah mendengarkan kami mengulas senyum manis “Ah…Tentu saja, aku juga sudah meminta izin pada orang tuaku seandainya harus menginap di rumah Panca”.

 Aku dan Angkasa kompak tersenyum kemudian pandangan kami terfokuskan pada Elettra yang masih diam membaca bukunya. Aku menghela nafas lagi untuk yang kesekian kalinya “Bagaimana denganmu, El?” tanyaku.

 Ia menoleh padaku dengan tatapan datar “Tentu saja aku ikut, ayahku sudah mengizinkanku untuk menginap di rumahmu asalkan itu bersama Mayang, lagipula aku tidak yakin kalian bisa menyelesaikan tugas ini kalau tidak ada aku” katanya sok percaya diri, namun apa yang ia bicarakan itu ada benarnya, Elettra adalah yang terpintar di sekolah ini, tanpa dia, yang beruntungnya menjadi sahabatku, aku yakin nilaiku pasti akan bertambah buruk, ia yang selalu membantuku untuk menyelesaikan tugas-tugasku, walau saat dia mengajariku membahas satu soal saja perlu waktu sekurang-kurangnya satu jam untukku memahami, untung dia sabar. Ah, kau mendapat rasa hormat permanen dariku El.

Setelah Elettra mengatakan itu, Angkasa mengepalkan tangannya kemudian mengangkat ke udara seraya berkata dengan semangat “Baiklah, sudah disepakati, nanti malam kita akan mengerjakan tugas di rumah Panca, jangan lupa siapkan makanan dan minuman yang banyak, Panca” katanya sembari menepuk bahuku. Aku berdecih namun kemudian mengangguk dan tertawa.

Setelah menyelesaikan hari yang melelahkan di sekolah, akhirnya aku pulang jam 14.30 WIB. Aku pulang lebih dulu tanpa menunggu kakakku sesuai pesannya tadi pagi, setelah sampai dirumah aku segera mengganti seragamku dengan baju rumahan, kemudian makan siang, sedangkan ibuku pergi berbelanja, itu yang ia tulis di sticky notes yang kutemukan tertempel di kulkas saat akan mengambil air minum tadi, setelah selesai makan siang aku hanya rebahan di kamarku sambil memainkan game online di gadget milikku, saking asiknya main game tanpa sadar aku ketiduran.

Aku membuka mata ketika mendengar pintuku digedor secara membabi buta diiringi dengan suara teriakan kakakku, aku segera melompat dari kasur dan membuka pintu, kemudian menyela kakakku yang masih berteriak memintaku bangun, aku melongokkan kepala keluar pintu dengan air muka yang masih terlihat jelas baru bangun tidur, mungkin masih ada air liur yang menyangkut disekitar mulutku “Ada apaaa?” tanyaku pada kakakku.

 Kakakku berdecih dengan muka mencemooh “Kau pikir ini jam berapa bocah? Tidak kah kau tahu bahwa di bawah ada teman-temanmu yang menunggu untuk mengerjakan tugas?”.

 Aku tertegun sebentar sebelum menoleh ke arah jam dinding di kamarku yang menunjukkan pukul 17.15 sore. Aku tersentak dan berbicara pada kakakku “Kenapa tidak membangunkanku sedari tadi?”.

 Ia melotot kemudian membalas “Aku juga baru pulang dasar Panca, tidakkah kau tahu bahwa aku tadi….”. Tanpa mendengar ocehan kakakku lebih jauh lagi aku, segera menutup pintu kamar untuk segera mandi dan bergabung dengan teman-temanku yang kurasa sudah bosan menungguku, karena kami berjanji akan mulai kerja kelompok jam 17.00 WIB.

            Setelah selesai mandi aku segera menemui teman-temanku dibawah. Saat sampai di sana aku melihat mereka sudah sibuk dengan buku mereka masing-masing kulihat ada beberapa toples camilan dan juga gelas minuman yang kuyakini disiapkan ibuku untuk mereka. Aku berdehem sebentar untuk menyita atensi mereka, saat sudah sampai di ruang tengah tempat mereka mengerjakan tugas, Elettra sudah lebih dulu berdecak sambil bersedekap menatapku dengan mengintimidasi “Bagus sekali, tuan rumah baru datang menyambut setelah kami karatan di sini”.

 Aku menggaruk belakang kepalaku yang sebenarnya tidak gatal kemudian menyahut dengan nada menyesal “Maaf teman-teman tadi aku ketiduran”.

 Mayang tersenyum lembut dan berkata “Sudahlah tidak apa-apa, Panca. Sekarang sebaiknya kita segera mulai, atau walau sudah tengah malam kita berusaha menyelesaikannya, tugas ini tidak akan selesai-selesai”.

 Elettra yang tadinya menatapku dengan dingin memalingkan wajahnya dan kembali serius dengan bukunya. “Baiklah apa tugasku?” kataku sembari duduk, bertanya pada mereka. “Carilah artikel di internet yang membahas tentang ‘Sistem Regulasi Manusia’, nanti bisa kita gabungkan dengan informasi yang sudah didapat Elettra agar makalah ini menjadi semakin lengkap, kau bisa, Panca?”, itu Angkasa yang memberikan tugas padaku. Aku menjawab dengan melakukan gerakan penghormatan ke arahnya “Siap laksanakan, komandan”.

            Waktu terus berjalan tanpa terasa jam sudah menunjukkan pukul 22.00 WIB, tugas kami sudah selesai berdasarkan informasi yang kami dapatkan dari internet, kemudian ditambah dengan pengetahuan yang sebetulnya sudah lengkap dari Elettra kami yang pintar, membuat makalah yang kami buat menjadi semakin detail dari akar-akarnya. Tadi Elettra juga sempat menjelaskan kepada kami tentang materi ‘Sistem Regulasi Manusia’ dengan begitu piawainya.

 Ibu dan Kakakku sudah tidur sedari tadi setelah sempat menemani kami dan bercakap-cakap sebentar. Aku menguap sambil merenggangkan badan “Akhirnya…selesai jugaa…” kataku.

 “Ah iya..akhirnya sudah selesai, terima kasih atas kerja samanya teman-teman!” Mayang menyahutku. Kami mengangguk kompak, “Jadi…” tanyaku “Kalian akan menginap di sini?”. Angkasa mendecih “Tentu saja, kau pikir sekarang sudah jam berapa?” tanyanya.

 “Baiklah, Angkasa bisa tidur denganku, sementara Elettra dan Mayang tidur di kamar kakakku dia sudah mengizinkan, tapi jangan lupa ketuk pintunya dulu, karena mungkin ia sudah mengorok saat ini”. Mayang dan Elettra mengangguk, kemudian kami bersama-sama membereskan buku-buku yang masih berserakan untuk kemudian pergi tidur, sebelum besok teman-temanku harus bangun pagi dan pulang ke rumahnya masing-masing.

            Belum sempat aku dan teman-temanku menyelesaikan acara beres-beres buku kami, secara tiba-tiba bulu kudukku meremang, aku merasakan seluruh saraf dan otot-otot dalam tubuhku membeku sesaat. Aku mendongak, sekelebat bayangan hitam tertangkap oleh netraku, belum sempat berkata apapun, Mayang sudah lebih dulu menyahut “Apa kalian merasakan yang sama denganku? Kenapa aku merasa ada yang sedang mengawasi kita”, ucapnya. Kami merapatkan diri satu sama lain, aku bergerak gerak gelisah dengan suasana yang terbilang mencekam saat ini.

 Aku mendengar alunan suara yang begitu menenangkan dan menentramkan hati, suaranya begitu halus, dalam, dan merdu dalam waktu yang bersamaan. Suara itu makin lama makin tentram dan menghanyutkan, aku terkesiap, tanpa sadar Elettra yang ada disampingku memegang tanganku dengan gemetar. Aku menoleh ke arahnya yang terlihat begitu ketakutan. Aku menariknya semakin mendekat kearahku, kugenggam jemarinya berusaha menghangatkan tengannya yang dingin dan mencoba memberikan sugesti bahwa semuanya akan baik-baik saja. Suara itu semakin dalam merasuki rungu kami, dan seakan menyalurkan hasrat pada lubuk hati kami untuk terus terhanyut pada melodi yang menggugah jiwa itu.

 Angin dingin menembus memasuki jendela, membuat tirai-tirai tersingkap dan berterbangan menampilkan langit malam yang dihias dengan paras cantik bulan purnama. Aku terhenyak saat sesosok perempuan dengan tubuh ramping, rambut keriting pirang panjang, gaun peraknya bersinar terang seakan ditenun langsung dari sinar bulan. Ia tersenyum kearah kami, kemudian menarik tangan kami berempat, aku, Mayang, dan juga Angkasa hanya pasrah karena terlanjur terbuai dengan suara merdu tadi yang terus mengalun indah, sementara dari sudut mataku, kulihat Elettra berusaha memberontak untuk melepaskan diri dari tarikan si wanita tadi. Kurasakan suara indah tadi terus mengalun dengan irama semakin cepat, bersamaan dengan tarikan si wanita yang semakin kuat juga, dan pada akhirnya kami tertarik ke pusaran hitam yang entah sejak kapan sudah ada di belakang si wanita.

 Tubuhku linglung dan kami berempat bersama si wanita tadi, jatuh ke dalam pusaran hitam yang entah mengarah ke mana. Terakhir yang kurasakan adalah pegangan tangan Elettra yang menguat di tanganku dan pikiranku yang melayang memikirkan ibu, kakak, ayah, serta nasibku dan ketiga temanku setelah ini. Sebelum akhirnya pandanganku menggelap dan tubuhku terus berputar jatuh kedalam pusaran hitam tadi.

-Bagian 2

-Panca’s POV

            Tubuhku seperti jatuh dari atas ketinggian dengan bokong mendarat lebih dulu di tanah menimbulkan bunyi gedebuk memekakan. Aku bangun ketika genggaman tangan Elettra mulai mengendur, kurasakan seluruh tulang di tubuhku seakan remuk seperti habis kejatuhan pantat gajah yang berbobot ribuan ton. Hal pertama yang kulihat adalah hutan lebat yang hanya diterangi oleh cahaya bulan, angin malam yang berhembus di sini begitu dingin namun sejuk di saat yang sama, pepohonan di sini begitu tinggi dan kuyakin kalau tidak pernah ditebang. Satu hal lagi yang kuyakini adalah tempat ini berbeda dari tempat yang biasa kutinggali, aura di sini berbeda, agak….mencekam mungkin.

 Kualihkan pandangan kepada teman-temanku yang dari air mukanya dapat kulihat bahwa mereka sama terkejutnya denganku. “Apa semuanya baik-baik saja?” itu suara Angkasa yang memecahkan keheningan yang terjadi antara kami. Aku, Mayang, dan Elettra mengangguk bersamaan.

 “Tempat apa ini?” Mayang menimpali. “Aku tidak tahu” jawabku, aku melanjutkan “Ini dimana, El?” tanyaku kepada Elettra. Ia berdecih “Mana aku tahu, kenapa kau bertanya padaku?”.

 Aku menatapnya dengan pandangan yang seakan berkata ‘Ah benarkah si nomor satu ini tidak tahu?’, “Kan biasanya kau yang paling bisa menjawab pertanyaan kami”. Ia juga balas menatapku dengan malas “Aku selama ini belajar tentang rumus fisika dan juga cairan kimia ‘Tuan Lima’ bukan tentang tempat-tempat misterius seperti ini” katanya.

 Aku melotot ke arahnya saat ia memanggilku ‘Tuan Lima’ dengan sedikit penekanan. “Hei, sudahlah kalian berdua” kata sebuah suara yang terdengar begitu halus dan merdu.

 Atensi kami semua teralihkan pada sumber suara, ternyata ia adalah wanita pirang yang menarik kami ke sini tadi. Ia memandang kami dengan senyuman yang teramat manis membuatku melongo selama beberapa saat. “Selamat datang di Neverland anak-anak manis” katanya dengan semangat.

 “Eh bukankah kau tadi yang menarik kami ke mari? Kenapa kau melakukan itu? Tempat apa ini? Kenapa kau seenaknya melakukan ini pada kami? Bagaimana kami kembali?” pertanyaan beruntun itu datang dari si tampan Angkasa.

 Wanita yang ditanya hanya kembali tersenyum, membuat aku bertanya-tanya dalam hati ‘Apa bibirnya tidak pegal?’. Wanita tadi kemudian menjawab pertanyaan Angkasa “Kau banyak sekali bertanya anak muda, tapi tak apa akan kujawab satu persatu pertanyaanmu, iya akulah yang membawa kalian ke mari. Sudah kukatakan tadi kalau tempat ini adalah Neverland. Bagaimana cara kalian kembali? Tentu saja kalian bisa kembali, itu bisa dipikirkan nanti, tapi kalian harus melewati beberapa rintangan dulu, bukankah kalian adalah sahabat? Setahuku sahabat itu bisa melewati semuanya bersama, jadi..mari kita lihat apa persahabatan kalian itu benar-benar tulus dari hati, atau cuma pernyataan tanpa bukti dari mulut-mulut penuh ilusi kalian itu”. Aku menautkan alis dengan bingung sambil berpikir ‘Jadi..ini semacam tolak ukur persahabatan kami?’

            “Eh..tunggu dulu, jadi maksudmu kau ingin mencari tahu seberapa besar rasa persahabatan kami?” tanyaku pada si wanita. “Hmm..Bisa dibilang begitu” katanya sambil mengusap-usap dagu seolah berpikir.

 “Tapi kenapa harus kami?” tanya Mayang. Fokus si wanita teralihkan padanya “Kenapa harus kalian? Karena kalian adalah kelompok sahabat yang paling menarik di abad ini, bayangkan saja bagaimana kalian yang mempunyai sifat yang bertolak belakang satu sama lain bisa menjadi teman dekat? Tidakkah kalian berpikir bahwa kalian itu unik?”. Benar juga sih apa yang ia katakan, tapi tetap saja caranya bukan seperti ini, ini tidak benar, ini pemaksaan, kalau saja ada ponsel di sini aku akan menghubungi kantor polisi dengan laporan kasus penculikan anak di bawah umur.

 “Lalu kau ini…siapa? Kenapa bajumu seperti itu? Kau seperti tidak berasal dari abad ini, kau juga aneh. Bagaimana bisa kau membawa kami ke sini? Apa kau punya sihir? Hei, tapi sihir itu kan tidak ada”.

 Wanita itu mendengus pada Angkasa yang membombardir dirinya dengan pertanyaan..lagi. “Ah..rupanya kau yang paling cerewet ya? Baiklah aku akan memperkenalkan diri. Namaku Xana, dan kau memang benar bahwa aku bukan berasal dari abadmu, bahkan tempat ini juga berada di ‘dimensi yang lain’ dari tempatmu”.

 “Dimensi lain?” tanya Elettra akhirnya buka suara setelah dari tadi hanya diam memperhatikan kami. Ia melanjutkan “Apa ada hal seperti itu? Memang benar sih kalau beberapa novel memang menceritakan tentang dimensi lain, tapi kan itu hanya karya fiksi, hayalan para penulis yang otaknya berisi imajinasi, tapi kan sampai saat ini kurasa para ilmuwan belum bisa menjelaskan teori ilmiah dari dimensi lain ini” katanya, yang…aduh…aku nggak paham apa yang dia bicarakan.

 “Tidak semua hal di dunia harus bisa dijelaskan oleh para ilmuwan pujaanmu itu, nona manis, kau tahu? Dunia ini masih menyimpan jutaan misteri yang membutuhkan waktu setidaknya 1 milyar tahun untuk para ilmuwan sok pintar itu dapat menjelaskan”.

 Elettra memandang si wanita tadi, Xana, dengan pandangan sinis yang seolah mengatakan ‘Apa-apaan?’. Xana kembali menghadap pada Angkasa, tidak … tidak dia mengedarkan pandangannya pada kami lalu berkata “Sebaiknya ini segera dimulai, atau kalian tidak akan bisa kembali ke rumah kalian lagi”.

“Apa maksudmu?” sentakku. “Baiklah dengarkan aku baik-baik, anak-anak”, anak-anak? Dikiranya kami ini masih PAUD?, ia memejamkan mata kemudian mengepalkan tangan, mulutnya berkomat-kamit tidak jelas seolah membaca mantra, kupikir dia berasal dari zaman Raja Arthur.

 Kemudian dari kepalan tangannya muncullah cahaya perak kebiruan yang memancar indah. Xana membuka matanya begitu juga kepalan tangannya, di sana bisa kulihat sebuah benda berukuran sama seperti kelereng bersinar dengan indahnya, ia menyodorkan benda itu pada kami “Ambillah, kalian punya waktu dua jam sebelum sinar di mutiara ini meredup dan kalian akan benar-benar terjebak di dunia ini selamanya. Mutiara ini akan menuntun kalian pada jalan pulang, namun semua itu tidaklah mudah, kalian harus menghadapi segala rintangan yang ada untuk bisa kembali pulang, dan pada akhirnya nanti, di sanalah persahabatan kalian benar-benar akan diuji. Perlu kalian ketahui, para pendahulu kalian yang merasakan hal yang sama seperti ini tidak ada yang bisa berhasil menyelesaikan misi, karena pada akhirnya mereka hanya akan peduli pada diri sendiri, bukan pada teman-temannya, para manusia munafik itu benar-benar menjijikkan”. Ia mengatakan ‘manusia’ dengan pandangan benar-benar jijik seolah dia bukan manusia, eh tapi apa mungkin dia  memang bukan manusia? Pikirku.

 Xana kembali melanjutkan “Pergilah, waktu kalian tidak banyak, atau kalian ingin membuang waktu dan menjadi santapan penghuni hutan ini? Itu sih terserah kalian, aku hanya bertugas mengantar, nah..mulai sekarang kalian harus bisa mengatasi semuanya dengan kerja sama…Aku pergi dulu…Selamat tinggal” katanya menyerahkan mutiara tadi pada angkasa sebelum lenyap dari hadapan kami.

 Aku kelabakan “Eh, eh tunggu, rintangan seperti apa? Apa yang kau maksud, hei jangan tinggalin kami seenaknya begitu dong..HEII”, aku bahkan berteriak namun Xana sudah melebur bersama udara menyisakan kami berempat dengan ketidak tahuan yang ada, aku memandang teman-temanku “Jadi…apa yang harus kita lakukan?” tanyaku.

            Kami semua masih berdiam diri di tempat yang sebelumnya kami pijak, tidak tahu harus berbuat apa. Angkasa pada akhirnya memecah hening diantara kami “Jadi..kita ke arah mana?” tanyanya. “Mana aku tahu” kataku menjawab, aku kemudian menoleh pada Elettra yang terlihat masih dongkol dengan si Xana tadi “Bagaimana menurutmu El?”.

 Ia menoleh lantas memejamkan matanya sejenak sebelum membukanya kembali dan berkata “Aku tidak tahu, tapi berdasarkan yang diucapkan ‘Si Pirang’ tadi, ada rintangan yang harus kita hadapi untuk bisa keluar dari tempat ini, katanya kita harus mengikuti arahan dari mutiara itu” katanya menunjuk pada mutiara yang dipegang oleh Angkasa “tapi aku tidak tahu bagaimana caranya agar membuat mutiara itu menunjukkan jalan, apa ia bisa bicara” katanya.

 Aku ingin menyahut namun belum sempat itu terjadi, tanah tempat kami berpijak lebih dulu bergetar hebat, seperti ada gempa, getaran itu terus menguat membuat kami susah untuk mempertahankan diri agar tidak jatuh.

 “Apa yang terjadi?” tanya Mayang, suaranya sudah menunjukkan kepanikan. Angkasa berusaha menenangkannya “Tenang semuanya apapun yang terjadi, kita harus tetap bersama”.

 Baru saja Angkasa menyelesaikan kalimatnya suara auman seperti ribuan harimau datang dari arah depan kami berdiri dengan goyah saat ini, angin bertiup dengan kencang burung-burung pun berterbangan entah karena apa.

 Menjawab pertanyaanku dari arah suara auman tadi muncullah sesosok harimau besar yang berlari kesetanan kearah kami. Kami semua membelalakkan mata panik, satu perintah dari Angkasa membuat kami lari tunggang langgang menjauh dari terkaman harimau yang lari kearah kami, “LARIII!!!!”, perintah Angkasa.

            Kami terus berlari tak menhiraukan derau nafas kami yang suaranya terdengar seperi genderang perang, aku terus berlari seraya terus memperhatikan teman-temanku yang melakukan hal yang sama denganku “KITA HARUS APAA?” teriakku. “Kan sudah kubilang aku nggak tahu” kata Angkasa kembali mengingatkanku.

 Di tengah kesemerawutan kami berlari aku mendengar bunyi gedebuk keras di belakangku, aku menoleh dan kulihat Mayang terjatuh dengan muka mencium tanah, serius deh, kalau situasinya sedang tidak begini, aku pasti menertawakan posisi Mayang saat ini.

 Aku berhenti, berbalik badan, kemudian berlari untuk menolong Mayang, hal serupa juga dilakukan oleh Angkasa, kami mencoba membantu Mayang berdiri, Mayang mendesis saat kami berusaha merangkulnya untuk berlari “Apa kakimu sakit?” tanyaku. “Iya, argh… ini sakit sekali, Panca, Angkasa” katanya menjawabku. Elettra yang berdiri dengan raut khawatir di depan kami juga berusaha membantu dengan menyingkirkan tanah yang ada di wajah Mayang.

 Kami membantu Mayang untuk berlari menghindar dari monster tadi, namun terlambat karena derap langkahnya yang serupa 10 palu berbobot 1000 ton dihantamkan secara bersamaan ke tanah. Kami yang panik terus berusaha membantu Mayang berlari, akhirnya kami bersembunyi di semak-semak menghindari monster harimau itu, tapi tanpa disangka-sangka Elettra justru malah berdiri ”Apa yang kaulakukan Elettra” kataku  kepadanya ia memandangku dengan tatapan penuh tekad. Kemudian ia berbalik malah menghadap ke arah si monster harimau, ia memandang kami sebentar dan berkata “Pergilah teman-teman aku akan mencoba menghadang harimau itu”.

 Aku membelalak “KAU GILA? Tidak, kau harus ikut bersama kami, kami tidak mau kalau sampai kehilanganmu Elettra”, “Lalu apa?”, katanya “kalian pikir bisa menghindari monster itu dengan keadaan Mayang yang seperti itu? Aku yakin jawabannya tidak, maka dari itulah izinkan aku menjadi seseorang yang berguna bagi kalian dalam misi ini, lagi pula ini menyangkut Mayang juga, yang sudah kuanggap sebagai saudaraku sendiri, jadi..kumohon teman-teman pergilah , aku berjanji akan selamat dan menemui kalian lagi nanti” katanya.

 Aku menahan pergelangan tangannya sementara kudengar Mayang di belakangku sudah menangis “El…” kataku memandang Elettra sendu, ia melepas cekalanku dari tangannya kemudian tersenyum tulus, senyuman yang sangat jarang kujumpai dari seorang Elettra.

 Ia berkata “Tidak apa apa Panca, percayalah padaku aku bisa menjaga diri, kalian larilah ikuti arah cahaya itu” ia menunjuk kearah langit, aku melihat arah yang ditunjuknya dan mendapati cahaya perak bersinar entah dari mana, Elettra melanjutkan “aku yakin itu adalah cahaya yang akan membimbing kita kejalan pulang nanti”. “Lalu bagaimana denganmu?” lirihku, ia kembali tersenyum “Aku juga akan berusaha untuk terus melihat cahaya itu agar bisa menemui kalian nantinya, jangan khawatir tuan lima, aku akan baik-baik saja”katanya meyakinkan. Bagaimana aku tidak khawatir ketika salah satu dari kami harus mengorbankan dirinya demi kami.

 Suara langkah harimau itu semakin nyaring terdengar bersamaan dengan Elettra yang berbalik siap menghadang si monster “Ikuti aba-abaku,setelah aku berkata ‘lari’, maka larilah sekuat tenaga kalian”.

Ia berlari ke asal suara auman monster itu, aku memandang punggungnya yang semakin menjauh dengan pandangan kagum pada sosoknya yang pemberani. Presensi monster harimau itu sudah dapat kulihat, begitu menyeramkan dan besar, matanya berwarna emas, dan cakar-cakarnya begitu tajam sampai aku yakin cakar itu dapat mengoyak puluhan badak sekaligus.

 Kulihat Elettra mengangkat batu berukuran cukup besar, kemudian dengan sekuat tenaga ia melemparkan batu itu kearah si harimau sambil berteriak “HEI, KEMARI!! MUSUHMU ADALAH AKU DASAR MONSTER MUKA JELEK”. Batu itu mengenai moncong si monster, sesuai perintah Elettra perhatian si monster seluruhnya tertuju padanya, si monster mengaum dengan suara yang bisa membuat gendang telingamu robek.

 Elettra menoleh ke arah kami sebentar, berteriak memberi aba-aba pada kami “LARI!!!”, katanya. Kami bersama sama lari dengan keadaan yang berbeda, kami yang harus menolong Mayang, dan Elettra yang harus berlari dengan dikejar monster harimau besar di belakangnya.

 Aku terus berlari sambil membantu Mayang yang belum bisa menghentikan tangisnya juga Angkasa yang juga berlari namun dengan pandangan yang seoalah mengatakan bahwa ia tidak bisa menjaga kami dengan baik. Sementara dalam hati, aku terus berdoa supaya Elettra bisa meloloskan diri dari kejaran si harimau.

            Kami terus berlari mengikuti arah cahaya perak yang kata Elettra bisa menuntun kami ke jalan pulang. Cahaya itu membimbing kami menuju jembatan yang kelihatannya sudah lama sekali dibuat tali penyangganya sudah koyak demikian dengan pijakan kayunya yang sudah lapuk dimakan rayap, salah injak sedikit saja kau akan langsung terjun bebas pada jurang yang entah berapa kedalamannya dibawah jembatan ini.

 Kami membantu Mayang menyebrang pelan-pelan, saat kaki kami menyentuh satu per satu pijakannya menimbulkan bunyi krieet mendebarkan, namun pada akhirnya kami bisa sampai dengan selamat di ujung jembatan. Aku membantu Mayang duduk, kemudian ikut duduk di hadapannya dan bertanya “Bagaimana kakimu?”. Ia mendongak memandangku air matanya jatuh lagi membasahi pipi nya sorot kesedihan jelas terpancar disana “Panca…”, katanya parau “Elettra dia akan baik-baik saja bukan?”.

 Aku tersenyum lembut kearahnya walaupun dalam hati aku juga terus berusaha meyakinkan diriku sendiri bahwa Elettra akan baik-baik saja, “Ia akan baik-baik saja, May, Elettra itu gadis pintar dia pasti bisa lepas dari kejaran harimau itu”.

”Ia memang pintar Panca, tapi tentu saja ia tidak akan bisa mengalahkan harimau itu seorang diri, aku takut kalau  terjadi sesuatu padanya, ini semua karena aku, jika saja aku…jika saja aku tidak….”.

 Mayang kembali menangis tersedu-sedu, aku menatap ke arah Angkasa, karena dalam keadaan seperti ini biasanya ia yang paling bisa menenangkan kami. Angkasa menghela nafas kemudian ikut berjongkok di hadapan Mayang “Jangan pikirkan yang tidak-tidak Mayang, ia pasti baik-baik saja, percayalah padanya, itu yang ia minta pada kita”.

 Aku berdiri menatap ke arah bulan yang bersinar begitu terangnya, aku menghirup nafas dalam-dalam kemudian kudengar suara auman yang akhir-akhir ini sukses membuat aku panik seketika. Bersamaan dengan itu dari arah seberang jembatan seorang gadis dengan pakaian compang-camping berlari kesetanan dengan seekor monster harimau mengejar dibelakangnya, itu Elettra.

 Aku membelalak sempurna refleks berteriak “ELETTRA”. Pandangannya bertemu denganku dan saat kulihat seperti apa dirinya saat ini aku rasanya ingin pingsan saja, darah mengucur dari pelipisnya yang terluka, celana jeans panjangnya robek disana-sini dan luka di tangannya..astaga..luka cakaran berbentuk memanjang itu benar benar terlihat mengerikan. Elettra berusaha menyebrang di jembatan itu, yang sialnya hal yang sama dilakukan oleh si harimau itu.

 Elettra terus melangkah walau di setiap langkah jembatan itu bergoyang tak tentu arah, harimau di belakangnya terus mengejar, sampai pada langkah si monster di tengah jembatan, tali pembatas jembatan itu tiba-tiba putus membuat si harimau terjerembab langsung menuju jurang, suara aumannya begitu memekakan telinga dan dia berakhir entah seperti apa di dasar jurang sana.

 Kabar buruknya adalah Elettra yang sudah hampir sampai ditempat kami juga ikut terjerembab ke bawah, namun beruntungnya tanganku masih bisa menahannya. Sekuat tenaga aku menariknya dibantu oleh Angkasa, dan pada akhirnya kami bisa membantunya naik dengan selamat, aku refleks memeluknya sebagai ungkapan perasaan bahagiaku dia berhasil selamat, kurasakan ia juga merangkulku erat dengan nafas yang masih ngos-ngosan dan tubuh gemetar.

 Saat kurasa ia sudah sedikit membaik aku melonggarkan pelukanku kemudian menatapnya tanganku terulur menyentuh luka dipelipisnya kemudian berkata “El..setelah ini aku akan menjamin bahwa selama aku masih bernafas tidak ada seorang pun di jagad alam semesta ini melukaimu, aku berjanji, ini janji seorang lelaki dan kau bisa memegang teguh janjiku, ucapku yakin. Ia mengangguk kemudian mengucapkan terima kasih.

 Kemudian yang berikutnya dilakukan adalah Mayang yang memeluknya sambil menangis tersedu, dan Angkasa yang mengelus puncak kepalanya dengan penuh rasa syukur. Oke…kami sudah berhasil melewati rintangan pertama dengan selamat walau Elettra harus terluka. Selanjutnya masih ada rintangan yang menanti di depan. Kami beristirahat sebentar mengingat kondisi Elettra mengkhawatirkan sebelum akhirnya kami melanjutkan perjalanan lagi dibimbing oleh cahaya keperakan yang bersinar namun sedikit redup sekarang, menandakan waktu yang kami miliki jika ingin pulang semakin berkurang.

-Bagian 3

*Panca’s POV

            Kami berjalan mengarungi gelapnya malam sambil terus mengawasi sekitar takut-takut kalau ada sesuatu seperti tadi lagi. Tenagaku sudah terkuras habis karena selama 1 jam harus terus berjalan dan berlari sesekali jika mendengar suara gemerisik atau suara sekecil apapun itu, sementara waktu yang kami miliki jika ingin pulang semakin sedikit, dan cahaya yang membimbing kami makin lama makin redup, ditambah dengan kondisi Elettra yang tidak memungkinkah untuk terus-menerus diajak berlarian mengejar waktu.

 Sumpah saat ini, aku sudah merindukan ibu, kakak, terlebih ayahku. Bagaimana jika aku tidak bisa pulang? Oh…memikirkannya saja jangan, aku tidak  bisa tidur jika tidak di kasurku sendiri lalu bagaimana biasa aku hidup di negeri antah berantah seperti ini..oh mati saja sana.

 Kami terus berjalan dengan keheningan total, Angkasa saja yang biasanya terus berceramah mengenai yang boleh dan tidak boleh dilakukan sekarang menjadi diam membisu. Aku benci situasi seperti ini dimana kami saling diam, apa mereka ketulaaran virus diamnya Elettra?

 Aku memecah hening dengan bertanya pada Elettra “Bagaimana lukamu, El?” tanyaku, ia menoleh menjawab “Sudah agak sedikit membaik, darahnya sudah berhenti mengucur, tapi masih sakit” jawabnya sambil meringis memegangi lukanya.

 Aku menatapnya sedih “Maaf karena tidak bisa melindungimu El”, kataku. Ia hanya tersenyum tipis, yang baru pertama kali kulihat Elettra sudah dua kali tersenyum dalam kurun waktu belum ada satu hari “Tidak apa-apa Panca, sudah kukatakan aku ingin menjadi seseorang yang berguna untuk kalian” katanya. Tapi apakah dia tidak sadar kalau selama ini dia sudah banyak membantu kami.

 Elettra kembali menghela nafas “Aku juga ingin meminta maaf kalau selama ini aku masih tertutup pada kalian, aku sadar kalau sikapku selama ini masih terlalu dingin pada kalian, karena..yah..kalian tahu sendiri kalau aku seperti ini karena dulunya kurang bersosialisasi dengan sekitarku, setelah kita bisa pulang dari sini aku berjanji akan mengubah sikapku pada kalian”.

Sumpah..baru kali ini Elettra berkata tentang hubungan persahabatan kami panjang lebar begini, biasanya ia hanya akan menyahut sekenanya saat kami sedang bercengkrama. Aku merangkul bahunya “Tentu saja! Mari kita tunggu versi baru dari Elettra setelah ini”. Kami semua kompak tersenyum.

            Setelah itu, suasana tidak lagi sepi seperti sebelumnya, kami mengisi waktu dengan bercerita tentang kehidupan kami di rumah menambah erat tali persahabatan kami. Hampir saja aku lupa kalau saat ini kami sedang menjalani ‘Ujian Persahabatan’ begitulah aku menyebutnya, kalau saja Mayang tidak berbicara setengah berteriak “Hei, lihat cahaya itu semakin meredup kita harus cepat sebelum kita terjebak di tempat aneh ini selamanya”.

 Merespon ucapan Mayang, kami menghentikan percakapan lalu segera berlari untuk mengejar waktu agar kami segera ke luar dari sini. Saat kami sedang sibuk-sibuknya berlari sesuatu seperti kelelawar namun besar terbang menukik kearah kami. Kami semua terkejut lalu dengan satu komando dari Angkasa “MENUNDUK!!”, kami pun segera menunduk untuk menghindari sabetan cakar milik si kelelawar besar itu. Kelelawar itu terbang lagi kemudian hinggap diatas pohon yang lumayan tinggi.

 Saat cahaya dari bulan purnama sudah sepenuhnya menyinari sosok itu, aku langsung merinding melihat betapa menyeramkannya ia. Sayapnya membentang sekitar 12 kaki, matanya merah menyala menyebarkan kengerian diantara kami, tubuhnya mirip manusia namun dengan cakar-cakar yang tajam seperti cakar elang itu jelas tengah menatap kami dengan sorot mata kelaparan.

 Kami terdiam stagnan tidak tahu harus berbuat apapun. Aku sendiri hanya bisa gemetar, merasakan ketakutan yang seperti menusuk tepat di ulu hati. “Ahool” sebuah suara berseru, itu Angkasa. “Apa kau bilang?”tanyaku. Ia menoleh kearahku kemudian menjelaskan “Ahool, nama makhluk itu Ahool, aku pernah membacanya di salah satu buku mitologi milik kakekku, ia memakan manusia”.

 Aku meneguk ludah lagi takut “Serius” tanyaku memastikan, Angkasa berdecak “Tentu saja aku serius”. “Kalau makhluk ini bisa makan manusia apa kita berarti kita kemungkinan besar akan menjadi santapannya?”. Kali ini Elettra yang menyahutiku “Itu sih, tidak perlu ditanyakan lagi, katanya”.

 Aku bergerak-gerak gusar “Lalu bagaimana caranya kita lolos dari si Ahool, Ahool ini?”. Mayang menengok kearahku “Lari?” tanyanya. “Kurasa itu percuma, dia punya kecepatan terbang yang luar biasa, jadi untuk menangkap kita, itu merupakan hal yang sangat mudah baginya” ucap Angkasa.

 “Jadi, apa yang bisa kita lakukan, aku nggak mau jadi makan malam kelelawar lho” kataku. Angkasa kembali menyahut “Satu-satunya cara agar bisa lolos darinya adalah membunuhnya dengan menancapkan senjatamu tepat pada jantungnya”. “Masalahnya..kita kan nggak punya senjata apa-apa” ucapku.

 Belum sempat kami memikirkan cara untuk membunuh si Ahool ini, yang dibicarakan lebih dulu meraung keras “AHOOOLLL”. Kami sontak berhambur kesana kemari saat makhluk itu kembali melebarkan sayap untuk menyerang kami, mataku melirik ke arah teman-temanku yang berlari tak tentu arah, kemudian pandanganku tertuju pada Elettra yang berlari tergopoh gopoh menghindari cakaran makhluk pemakan manusia itu. Aku segera berlari kearahnya dan menggandeng tangannya, bagaimanapun juga ia sedang terluka. Aku terus menariknya agar berlari mengikuti langkahku.

 Namun, saat aku sudah menemukan tempat untuk bersembunyi suara jeritan Mayang mengalihkan atensiku, aku melihat makhluk itu mencengkeram pundak Angkasa, Angkasa bergerak-gerak mencoba melepaskan cengkeraman makhluk itu dari pundaknya.

 Aku menoleh pada Elettra sebentar, memegang bahunya seraya berkata, “Bersembunyilah di sini El, aku akan mencoba membantu Angkasa, kau mengerti?”. Ia mengangguk meyakinkanku “Ya, aku mengerti Panca” kemudian ia berlari kecil untuk bersembunyi di balik batu-batu besar. Sementara aku meraih ranting pohon berukuran cukup besar untuk menghajar si ahool ini.

            “HEI, AHOOL” seruku, sontak membuat mata menyeramkan sosok itu segera tertuju padaku dia kembali mengaum “AHOOOLLL”. Aku mencoba terlihat menantang walau sebenarnya kakiku bergemetar karena ketakutan.

 “Apa kau tidak lulus SD sampai bahasa yang bisa kau gunakan hanya sekedar kata ‘ahool’dasar mulut bau” aku kembali berseru. Kata-kataku sukses membuatnya mengaum lebih keras lagi dan menjatuhkan Angkasa dari cengkramannya, aku mengernyit karena ketinggian jatuhnya Angkasa cukup membuat tulang rusukmu patah, aku menoleh sebentar pada Mayang “May, bersembunyilah dengan Elettra dibalik batu besar itu, aku akan membinasakan makhluk jelek ini”. Mayang mengangguk dan menyusuk Elettra ke tempat persembunyian. Sementara aku harus berhadapan dengan si ahool.

 Makhluk itu mengepakkan sayapnya bersiap menyerangku. Aku menghindar dari sabetan cakarnya yang luar biasa panjang. Ia kembali mengaum, terbang tinggi, kemudian menukik lagi berusaha untuk merobek tubuhku dengan cakarnya.

 Untuk kali ini aku lebih siap, kumantapkan pijakanku dan cengkramanku pada kayu, kemudian saat ia sudah mengayunkan cakarnya, dengan kecepatan kilat juga kuhantamkan kayu itu hingga mengenai bagian perutnya, membuatnya sedikit terpelanting. Kesempatan ini tidak kusia-siakan, dengan segera pula aku berlari kearah si ahool dan memukulnya dengan kayu secara bertubi tubi dan membabi buta, ia memekik kencang, cipratan darahnya mengotori bajuku.

 Namun tidak semudah itu ia kalah saat aku ingin memukulnya lagi ia menendangkan kakinya yang luar biasa bau, hingga mengenai dadaku membuatku terdorong menjauh dari tubuhnya. Ia segera bangkit dan ingin membunuhku lagi, tapi pertolongan datang padaku, Angkasa yang baru bangkit dari acara terjatuhnya menendang punggung ahool dari belakang memberiku kesempatan untuk kembali memukulinya.

 Aku beserta Angkasa yang bergabung memukuli ahool tanpa henti membuatnya terus memekik dengan suara yang sama sekali tak kusukai. Namun, seperti yang dikatakan Angkasa tadi, Ahool ini tidak akan bisa mati sebelum ditusuk tepat di jantungnya, sedangkan tenagaku dan Angkasa saat ini sudah terkuras habis karena memukuli ahool sedari tadi.

 Kami hampir saja pasrah saat cakar Ahool lagi-lagi melayang mencoba membunuh kami. Namun satu, suara lagi-lagi mengalihkan atensi kami “PANCA, ANGKASA” teriak suara itu,  suara Elettra. Aku memandangnya seolah berkata ‘Apa yang kau lakukan’. Seolah tak mengerti ucapanku ia justru semakin nekat dengan mendekat kearah kami, ia melanjutkan “Kurasa kau butuh personel tambahan untuk mengatasi si jelek ini”. Mata si ahool malah berkilat lapar saat melihat presensi Elettra. Elettra seolah tidak memedulikan itu dan malah melambai seperti anak-anak menghentikan penjual cilok d idepan rumah, bedanya yang dilambai ini adalah monster haus darah.”Hei, ikuti aku” katanya, aku dan Angkasa memandang Elettra dengan pandangan ngeri.

            Saat Ahool sibuk mengejar Elettra bahuku ditepuk oleh seseorang, itu Mayang, ia membawa sebuah besi dengan ujung lancip ditangannya. Ia berucap “Ini rencana Elettra, kami mendapatkan besi ini di bawah pohon dekat batu persembunyian kami entah milik siapa, salah satu dari kalian yang pandai melempar dengan tepat sasaran naiklah kesalah satu dahan pohon, yang lainnya membantu Elettra mengarahkan agar posisi makhluk itu bisa tepat agar memudahkan untuk dibunuh. Kalian mengerti?” tanyanya. “Ya, kami paham”,jawabku dan Angkasa bersamaan kemudian bangkit berdiri untuk mensukseskan rencana ini. “Biar aku yang melempar besinya, aku juara lempar lembing di sekolah, kalian tahu kan?”. Aku tahu kadang kala Angkasa juga bisa menyombongkan diri atas kelebihan yang ia punyai, namun apa boleh buat kalau itu memang faktanya. Mayang menyerahkan besi itu pada Angkasa, kemudian Angkasa segera naik menuju dahan pohon.

 Aku dan Mayang berlari mengejar Elettra dan ahool tadi, aku bersiul sekencang mungkin untuk mengalihkan perhatian si Ahool dari Elettra, sementara Mayang melemparinya dengan batu-batu yang ada.

 Ahool berbalik memandangku dan Mayang. Yang perlu kusyukuri adalah untung saja otak makhluk ini tidak pintar-pintar amat, dapat diketahui dari fokusnya yang mudah berpindah-pindah, sama seperti aku. Aku dan Mayang berlari ke arah dimana Angkasa bersembunyi dengan ahool berada di belakang kami, aku sudah kehilangan tenagaku, kalau sampai rencana ini tidak berhasil, maka sudah dipastikan kami akan tamat. Ketika kami sudah dekat pada posisi Angkasa, sialnya kakiku tersandung akar pohon Mayang mencoba membantuku berdiri, kali ini nasib buruk sepertinya sedang menghinggapiku karena saat aku sudah kembali berdiri ahool pun datang dan berhasil menorehkan cakaran di lengan kiriku, begitu juga dengan Mayang. Aku mencoba melindungi diriku dan Mayang namun sia-sia kami pakai baju bahan kain, bukannya besi baja yang tahan cakaran.

 “HEI, DISINI JELEK” kata sebuah suara yang kuyakini suara Elettra, fokus ahool kembali terpecah lagi dan menatap Elettra, netranya menajam dan kemudian terbang dengan begitu cepat ke arah Elettra. Aku panik karena jelas aku tidak punya waktu untuk menolong Elettra saat ini. “ELETTRA” aku hanya bisa meneriakkan namanya kalang kabut.

  “SEKARANG” teriak Elettra, dan setelah itu sebuah besi melayang dari dahan pohon tepat mengenai dada sebelah kiri ahool. Ahool memekik dan meraung saat tubuhnya mulai buyar seperti debu, sedangkan Elettra jatuh terduduk dengan lutut menumpu tanah, dan Angkasa yang turun dari dahan pohon, tersenyum penuh kemenangan karena berhasil membunuh ahool. Aku terseok menghampiri Elettra yang sedang dibantu berdiri oleh Angkasa. Aku tersenyum ke arah mereka, mengacungkan jempol kemudian berkata “Kerja bagus teman-teman”.

            Kami mengistirahatkan diri kami sejenak di bawah pohon, cahaya pembimbing kami makin lama makin pudar, namun entah kenapa aku tidak terlalu memikirkan itu, melihat kondisi teman-temanku yang kelelahan dan terluka juga membuat aku sedih.

 Angkasa mengeluarkan mutiara dari dalam sakunya yang cahayanya juga sudah mulai redup “Teman-teman” katanya “bagaimana jika kita tidak bisa pulang dari sini?” tanyanya. Mayang memandangnya dengan raut muka yang sedih.

 Elettra lebih dulu menyela “Akan menakutkan jika seandainya aku terdampar di sini seorang diri, tapi aku masih merasa beruntung karena aku terdampar di sini dengan sahabat-sahabatku, jadi seandainya kita tidak bisa pulang dari sini” ia menhela nafas kemudian melanjutkan “Aku akan mencoba apapun asal aku tetap bersama kalian”. Aku mengangguk tersenyum ke arahnya, sedangkan Mayang sudah menitikkan air mata “Ya…mungkin Elettra benar, aku juga minta maaf karena selama di sini aku malah banyak merepotkan kalian, bukannya membantu aku justru menjadi beban kalian”. Elettra mendecak “Apa yang kau bicarakan aku tidak pernah merasa direpoti olehmu, justru aku senang karena bisa menolongmu, benarkan Panca, Angkasa?”. Ia memandang kami mengintimidasi seolah mengatakan ‘Awas saja kalau kalian tidak setuju’. Kami mengangguk membenarkan ucapan Elettra, walau tanpa tatapannya itu aku juga pasti mengangguk mengiyakan.

 Angkasa kembali berkata “Aku juga minta maaf teman-teman, kalau aku selama ini suka memerintah, menyuruh kalian melakukan ini dan itu, juga meneriaki kalian untuk mengerjakan tugas dengan baik, tapi aku melakukan itu juga agar kalian bisa paham arti dari tanggung jawab aku tidak mau teman-temanku menjadi orang yang lalai dikemudian hari”.

 Aku tersenyum tulus pada Angkasa “Tidak apa-apa, aku mengerti kataku, eh..tunggu kenapa kita jadi saling minta maaf dalam suasana yang seperti ini? Seperti akan berpisah saja, kuperingatkan kalian ya..jangan sampai kalian meninggalkan aku”. Mereka tersenyum padaku dan kompak mengucapkan dengan tulus “Janji” katanya, bersamaan denagn musnahnya cahaya yang membimbing kami, waktunya habis, dan itu tandanya kami tidak bisa pulang dari sini ‘Maafkan aku ibu,ayah,kakak, tapi sepertinya kita tidak akan bisa bertemu lagi’ ucapku dalam hati.

-Bagian 4 (End)

*Panca’s POV

            Saat kami sudah pasrah dengan keadaan kami yang tidak bisa pulang, sekelebat bayangan manusia muncul di hadapan kami, bayangan itu mewujud menampilkan wanita dalang dari semua yang kami alami ini. Xana muncul di sana masih dengan senyuman anggun “Senang bertemu kembali anak-anak, selamat karena kalian sudah melalui rintangan yang kami berikan”. Aku berdecih tidak suka menatapnya “Ya, tapi kami tidak bisa pulang”. Xana kembali tersenyum melanjutkan “Oh..tentu saja kalian bisa”. Kami semua terbelalak kaget Elettra menyahut “Tunggu, apa maksudmu bukankan kau bilang..” “Ssstt, bukankah sudah kubilang kalau dunia ini punya rahasia yang tidak akan bisa kalian mengerti dengan gamblang? Jadi ya … kalian bisa pulang”. Kami tersenyum kemudian bersorak senang, “Tetapi…” Xana melanjutkan ada konsekuensi karena kalian tidak bisa menemukan jalan pulang tepat waktu”.

 Aku meneguk ludah “Konsekuensi apa?” tanyaku. Ia merogoh sesuatu dari tas selempang yang kusadari saat kami baru sampai, ia tidak menggunakan tas itu. Ia mengeluarkan tiga permata yang sama seperti tadi. Xana berkata “Masing-masing dari kalian ambil satu, dan kalian akan bisa pulang dari sini”. Namun permatanya kan hanya ada tiga, jadi..kalau masing-masing dari kami harus mengambil satu… “Ya..” Xana berbicara seolah menjawab pemikiranku “Satu dari kalian harus tinggal disini sebagai konsekuensinya”. Aku menyalak “Hei, apa-apaan? Kenapa seperti ini? Kami semua ingin pulang asal kau tahu”.

 Xana menjawab “Apakah kalian sudah pernah diajari bahwa segala sesuatu yang tidak dilakukan dengan tepat ada konsekuensinya? Dan inilah konsekuensi untuk kalian”. Aku menunduk kenapa ini semua harus terjadi pada kami? Maksudku kalau memang ini ujian persahabatan, apakah dengan ini kami harus kehilangan salah satu sahabat kami?

 “Pergilah teman-teman aku akan tinggal” suara Mayang mengalun di telingaku “Aku tidak banyak membantu kalian di sini. Jadi aku akan tinggal di sini, hidup di hutan kelihatannya juga tidak buruk”. “Tidak buruk apanya?” sergahku marah. Elettra memprotes keputusan Mayang “Tidak, kau tidak boleh tinggal di sini seorang diri, kalau kau tinggal aku juga tinggal” putusnya final.

 Elettra menghembuskan nafas ketara sekali dia lelah “Dengar teman-teman kita sudah melalui rintangan selama di sini bersama, dan aku yakin kita juga bisa melalui apapun asal bersama termasuk jika harus tinggal di sini, tapi aku tidak akan mau kehilangan salah satu dari kalian hanya karena ujian tidak masuk akal yang menyebalkan ini, jadi…bukankah sebaiknya jika ada salah satu diantara kita yang tidak pulang kita juga harus tinggal? Pulang bersama atau tidak sama sekali” putusnya final.

 Kami semua kompak tersenyum Elettra benar, apapun yang terjadi kami semua sudah berjanji untuk bersama. Jadi jika ada salah satu diantara kami yang tidak pulang, maka kami semua tidak akan pulang. Aku menatap tajam kearah Xana sembari berkata “Kau sudah dengar sendiri perkatan Elettra tadi kami akan pulang jika semua pulang, tapi jika ada salah satu yang tinggal, maka…kami juga akan tinggal” kataku mantap.

 Xana berdecih tidak suka “Dasar merepotkan, apa drama kalian sudah habis?” ia merogoh tasnya lagi, mengeluarkan satu mutiara, “Ambillah dan pulang, kehidupan di sini tidak akan bisa tenang kalau kalian terus ada di sini”.

 Kami sontak terkejut, “Benarkah?” tanya Angkasa. Xana mengangkat bahu “Tentu saja, cepat ambillah dan kalian akan bisa pulang” ia menyodorkan keempat mutiara itu, yang kami terima dengan mata berbinar.

 Saat telapak tanganku sudah menyentuh mutiara itu, tubuhku seakan kehilangan bobotnya, ringan sekali, kaki-kaki kami tidak menapak tanah lagi, kami melayang. Tubuh kami memudar saat kulihat Xana tersenyum tulus dan melambai kearah kami. Aku memejamkan mata dan tubuhku seperti tersedot ke dalam pusaran yang sama saat kami masuk kedunia ini.

            Aku membuka mata, mengerjap menyesuaikan dengan cahaya yang menyilaukan, saat netraku sepenuhnya terbuka, aku menyadari bahwa kami ada di ruang tengah rumahku, buku-buku masih berserakan sama persis seperti saat kami selesai mengerjakan tugas tadi. Aku melihat jam pun masih menunjukkan angka yang sama sebelum kami masuk ke ‘dimensi lain’ tadi.

 Teman-temanku sama bingungnya denganku, Elettra memegang pelipisnya semakin bingung karena tidak mendapati luka disana. Kami semua pun begitu rasa lelah yang tadinya ada seolah hilang ditelan masa, digantikan dengan kantuk yang luar biasa menyerang.

 Angkasa memegang belakang kepalanya memandang aneh “Apa tadi itu cuma mimpi, atau cuma ilusi kita?” tanyanya. Aku mengangkat bahu, sambil menguap “Sudahlah kita pikirkan saja besok, aku sudah mengantuk, sebaiknya kita tidur, lagi pula besok kan kalian harus bangun pagi untuk pulang, habis itu sekolah lagi” kataku. Mereka mengangguk, membereskan buku denagn cepat dan menuju ke kamar masing-masing mengistirahatkan tubuh dan otak dari malam yang aneh sekaligus membingungkan.

            Pagi tiba, aku masuk kembali ke dalam rumah setelah mengantar teman-temanku untuk pulang, walau hanya sampai di depan teras rumah. Orang tua mereka sudah menjemput pagi-pagi sekali, alhasil kami semua kelabakan dan segera bangun.

 Aku mengambil minum di dapur dan mendapati kehadiran ibu dan kakakku, aku berpikir, mencoba menanyai mereka tentang kejadian semalam “Ibu, Kakak?” mereka kompak menoleh ke arahku dengan pandangan bertanya “Apa tadi malam kalian merasakan sesuatu yang janggal?”

 Mereka mengerutkan alis kemudian ibu menjawab “Tidak ada yang aneh, ibu pergi tidur sesudah menemani kalian ngobrol sebentar”. Kakakku mengangguk mengiyakan “Aku bahkan tertidur pulas sampai Mayang dan Elettra membangunkanku saat mereka mengetuk pintu kamar”.

 “Memangnya apa yang terjadi semalam?” tanya ibuku. Aku tersenyum kikuk “Tidak apa-apa, sebaiknya aku mandi dan berangkat sekolah” kataku karena tidak tahu harus menjelaskan apa karena mereka tidak akan percaya jika aku menceritakan kejadian semalam. Aku berlari menaiki tangga untuk mandi dan bersiap berangkat sekolah.

            Aku sampai di gerbang sekolah dan seperti biasa berpisah dengan kakakku. Kudapati presensi ketiga temanku yang entah secara kebetulan atau apa, berangkat bersama pagi ini, aku tersenyum dan berlari kecil ke arah mereka, merangkul mereka bertiga dengan senyum lebar. “Selamat pagi teman-teman” sapaku. “Selamat pagi, Panca” jawab mereka kompak, kali ini bukan hanya Mayang dan Angkasa yang menjawab, namun Elettra juga, membuatku semakin melebarkan senyum. Kemudian berjalan bersama menuju kelas sambil bercanda ria seperti biasa.

 Terlepas dari nyata atau tidaknya kejadian semalam, aku dan teman-temanku memutuskan untuk tidak mempermasalahkan itu. Walaupun yang terjadi malam itu sedikit banyak telah merubah pola pikir kami dalam menjalin persahabatan. Aku tahu kalau teman-temanku benar-benar tulus padaku, perasaan mereka murni didasari rasa kasih sayang dan saling menjaga satu sama lain, bukan hanya sekedar cari sensasi aatu memanfaatkan kelebihan salah satu dari kami.

 Aku menghentikan langkah saat kulihat bayangan wanita pirang, Xana, di depan pintu kelasku. Tersenyum kearah kami sebelum lenyap menjadi udara kosong. Elettra berbalik menghadapku yang berhenti melangkah secara tiba-tiba “Ada apa Panca?” tanya nya. Apa mereka tidak menyadari bayangan Xana tadi? Melihat raut muka mereka yang kebingungan dengan tingkahku, aku segera menggeleng dan mengatakan “Tidak ada apa-apa”, lalu segera mengikuti langkah mereka masuk ke kelas.

 Yaah, kau tahu tidak ada yang lebih menyenangkan dari mempunyai sahabat yang benar-benar mengerti dirimu dan mereka bertiga menunjukkan padaku arti dari persahabatan yang sebenarnya.

Kuberitahu ya….   Teman terbaik itu seperti bintang. Kamu tidak selalu bisa melihatnya, namun kamu menyadari dia akan selalu ada di sana. Saat naik ke puncak gunung ada masanya kita turun, saat pergi ada masanya kita pulang, saat bertemu ada masanya untuk berpisah. Pada akhirnya kita sadar semuanya ada masanya . Tapi kuharap tidak untuk pertemanan, tidak ada teman pada masanya , hanya teman untuk selamanya.

~END~

(Ninis Krisjayanti – XI MM)